1 SPPG di Sukabumi Ditutup Akibat Keracunan MBG, Ratusan Masih Tanpa Sertifikat Higienis

·

·

Penutupan Dapur SPPG di Sukabumi Akibat Keracunan Massal

Sebuah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ditutup setelah terjadi kasus keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar. Kebijakan ini dilakukan sebagai langkah pencegahan dan penanganan dugaan adanya makanan tidak layak konsumsi yang disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bupati Sukabumi, Asep Japar, mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima informasi terkait penutupan satu dari 191 SPPG yang ada di wilayahnya. Menurutnya, pihak berwenang sedang melakukan investigasi lebih lanjut untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.

\”Ya, kemarin saya sudah dengar informasi (penutupan SPPG), kita sedang pelajari soalnya itu yang kena,\” ujar Asep Japar pada Rabu (1/10/2025). Ia berharap agar insiden serupa tidak terulang lagi di masa mendatang.

Ratusan SPPG Belum Miliki Sertifikat Higienis

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Agus Sanusi, menjelaskan bahwa saat ini terdapat sebanyak 191 SPPG di wilayah ini. SPPG berperan sebagai pusat pengolahan makanan yang disediakan bagi siswa SD, SMP, SMA, hingga SMK. Sayangnya, hingga kini belum ada satupun dari SPPG tersebut yang memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

\”Ada 191 SPPG. Belum ada (SLHS),\” kata Agus saat dikonfirmasi. Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya baru saja menyelesaikan uji laboratorium terhadap dua SPPG, yaitu Cidolog dan Parakansalak.

Hasil Uji Laboratorium Mengungkap Adanya Kontaminasi

Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dari SPPG Cidolog menunjukkan adanya kontaminasi bakteri dan jamur. Sampel yang diperiksa antara lain nasi uduk, tempe orek, acar bumbu kuning, telur dadar, dan semangka. Hasilnya, ditemukan:

  • Jamur Coccodiodesimmitis pada semangka.
  • Bakteri Enterobacter cloacae pada tempe orek.
  • Bakteri Macrococcus caseolyticus pada telur dadar.

Agus menjelaskan bahwa kontaminasi tersebut bisa terjadi karena proses penyimpanan makanan pada suhu ruang yang terlalu lama. Hal ini menunjukkan pentingnya pengawasan terhadap kebersihan dan cara penyimpanan makanan di dapur SPPG.

Di SPPG Parakansalak, hasil uji laboratorium menunjukkan adanya bakteri Bacillus Cereus pada telur. Bakteri ini dapat mengkontaminasi telur mentah jika disimpan pada suhu yang tidak tepat. Agus menekankan bahwa telur harus dimasak hingga matang sempurna untuk meminimalisir risiko toksin yang mungkin tidak rusak sepenuhnya saat dimasak ulang.

Langkah Pencegahan dan Pengawasan yang Perlu Dilakukan

Dari hasil uji laboratorium tersebut, terlihat bahwa masalah kebersihan dan pengolahan makanan di SPPG masih menjadi tantangan besar. Agus mengatakan bahwa pihaknya akan terus memantau dan memberikan edukasi kepada pengelola SPPG agar lebih memperhatikan standar higienitas.

Selain itu, perlu adanya peningkatan kesadaran para pengelola SPPG terhadap pentingnya sertifikat SLHS. Dengan memiliki sertifikat ini, mereka dapat memastikan bahwa makanan yang disajikan aman untuk dikonsumsi oleh pelajar.

Tindakan Lanjutan yang Diperlukan

Penutupan SPPG Palabuhanratu adalah langkah awal yang perlu diikuti dengan tindakan lebih lanjut. Pemerintah daerah harus segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap semua SPPG yang ada, termasuk pemeriksaan rutin dan pemberian sertifikat higienis. Selain itu, pelatihan tentang keamanan pangan dan manajemen penyimpanan makanan juga perlu digelar secara berkala.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kejadian keracunan seperti yang terjadi di Sukabumi tidak akan terulang lagi. Pelajar dan masyarakat umum akan merasa lebih aman dan percaya terhadap program MBG yang diselenggarakan pemerintah.



Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: VIP2026 Setiap transaksi di askai.my.id.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID

Baca Komik Manga (Askai Manga) di MANGA.AINIME.ID


 

Translate »