Proyek Pusat Data Meta di Louisiana: Harapan dan Kekhawatiran
Meta, salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, sedang membangun pusat data kecerdasan buatan (AI) raksasa di Richland Parish, Louisiana. Proyek ini memiliki luas sekitar 4 juta kaki persegi atau setara dengan 70 lapangan sepak bola. Dengan biaya mencapai 10 miliar dolar AS (sekitar Rp166,5 triliun), proyek ini diharapkan dapat menciptakan 500 lapangan kerja langsung serta ribuan pekerjaan konstruksi.
Namun, di balik harapan akan peningkatan ekonomi, muncul kekhawatiran publik terkait dampaknya terhadap pasokan air dan energi. Di beberapa wilayah sebelumnya, seperti Newton County, Georgia, pengalaman serupa telah terjadi. Warga setempat mengeluhkan masalah pasokan air sejak Meta membangun pusat data senilai 750 juta dolar AS pada 2018.
Beverly Morris, seorang warga yang tinggal hanya 300 meter dari fasilitas tersebut, mengatakan kehidupannya berubah drastis sejak proyek dimulai. Ia merasa seperti berjuang dalam pertempuran yang mustahil dimenangkan. “Saya takut meminum air dari sumur kami sendiri,” ujarnya.
Menurut laporan The New York Times, keluarga Morris mengalami kerusakan berulang pada peralatan rumah tangga yang menggunakan air akibat penumpukan sedimen. Mereka bahkan harus mengganti peralatan tersebut hingga tiga kali. Sekarang, mereka hanya bisa mengandalkan satu kamar mandi yang dipakai bersama, termasuk oleh anak laki-laki mereka yang menyandang Down syndrome.
Keluhan serupa juga datang dari tetangga mereka, Chris Wilson, yang mengaku tekanan air di rumahnya melemah drastis. “Kadang-kadang airnya begitu cokelat, seolah keluar dari sungai,” tuturnya.
Data menunjukkan bahwa pusat data tersebut mengonsumsi sekitar 10 persen dari total pasokan air harian di Newton County, atau rata-rata 500.000 galon per hari untuk mendinginkan server. Meski demikian, Meta menegaskan bahwa kaitan antara gangguan pasokan air dengan operasional pusat data di Georgia “tidak mungkin terjadi.” Perusahaan juga menyebut fasilitasnya memberi “dampak positif” bagi ekonomi lokal, termasuk lapangan kerja dan investasi infrastruktur.
Di Louisiana, perdebatan publik kembali mencuat. Komisi Pelayanan Publik setempat menyetujui pembangunan tiga turbin gas alam untuk memasok lebih dari 2 gigawatt listrik bagi pusat data ini. Proses persetujuan yang dipercepat menuai kritik karena dinilai minim transparansi. Komisaris Davante Lewis, satu-satunya yang menolak, menegaskan, “Ada informasi yang seharusnya kita ketahui dan butuhkan, tetapi tidak tersedia.”
Sementara itu, Meta menyatakan telah bekerja sama dengan Entergy Louisiana untuk menanggung biaya infrastruktur energi yang dibutuhkan, sekaligus berinvestasi lebih dari 200 juta dolar AS (sekitar Rp3,3 triliun) dalam pembangunan jalan dan infrastruktur air lokal. “Richland Parish adalah rumah kami, dan kami berkomitmen memainkan peran positif dalam pembangunan jangka panjang komunitas ini,” ujar perusahaan yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg itu.
Namun, pakar kebijakan air dari Universitas Stanford, Newsha Ajami, menegaskan bahwa isu pasokan air sering kali terabaikan dalam proyek teknologi berskala besar. “Air kerap dianggap sebagai urusan belakangan, seolah selalu ada pihak lain yang akan menyelesaikannya nanti,” ujarnya.
Dengan meningkatnya kebutuhan energi dan air dari fasilitas digital raksasa, perdebatan soal harga yang harus dibayar masyarakat setempat tampaknya belum akan mereda. Proyek Meta di Louisiana pun menjadi contoh nyata benturan antara ambisi teknologi global dan kekhawatiran lokal yang sangat mendasar, yakni akses pada air bersih dan listrik yang terjangkau.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.