CILACAP, ASKAI.ID – Top UP Isi Ulang Game Murah
Bermula dari kekhawatiran terhadap banyaknya kasus keracunan yang terjadi dalam program makan bergizi gratis (MBG), dua siswi SMA Negeri 2 Cilacap, Jawa Tengah, menciptakan alat pendeteksi makanan basi. Alat ini diberi nama Ompreng, yang merupakan karya dari Alya Meisya N (16) dan Felda Triana W (16), siswi kelas XI jurusan Fisika-Matematika.
Ompreng adalah kotak makan pintar yang mampu mendeteksi apakah sebuah makanan layak atau tidak untuk dikonsumsi. Alya mengungkapkan bahwa banyaknya kasus keracunan yang terjadi di Indonesia sejak program MBG berjalan membuat mereka prihatin. Banyak anak-anak yang terkena keracunan hingga harus masuk rumah sakit.
Setelah berkonsultasi dengan guru pembimbing, ide tersebut dikembangkan menjadi sebuah alat yang praktis digunakan. Alya menjelaskan bahwa awalnya mereka melihat banyak teman-teman di berbagai daerah yang terkena keracunan makanan, termasuk dari program MBG. Dari situ, mereka terpikir untuk membuat alat yang bisa mendeteksi apakah makanan itu masih layak atau sudah basi.
Cara Kerja Ompreng Pendeteksi Makanan Basi
Ompreng bekerja dengan cara mendeteksi gas yang keluar dari makanan, serta membaca suhu dan warna. Hasil pembacaan ditampilkan melalui indikator pada sensor, dan dapat dipantau langsung lewat aplikasi Android Blynk IoT.
Felda menjelaskan bahwa untuk daging, indikator aman berada di angka 100-400. Jika sudah mencapai 1.000, maka makanan tersebut sudah basi. Sementara itu, buah dan sayur dianggap aman jika berada di angka 100-500. Jika di atas angka tersebut, maka makanan tersebut hampir basi.
Alya dan Felda juga berharap alat ini nantinya bisa dikembangkan lebih lanjut agar mampu mendeteksi bakteri berbahaya seperti e-coli dan salmonella. Meski sederhana, inovasi ini telah melalui uji laboratorium dan berhasil mengantarkan keduanya meraih juara II dalam ajang AHM Best Student (AHMBS) Regional Jateng-DIY 2025 yang digelar Astra Honda Motor, 11-23 September lalu.
\”Alhamdulillah dapat juara dua. Harapannya Ompreng bisa benar-benar dipakai untuk menekan kasus keracunan makanan,\” ujar Alya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 2 Cilacap, Masripah, menyebut inovasi siswanya lahir dari riset yang menjawab kebutuhan masyarakat. Bahkan, sekolah kini mulai menggunakan ompreng pintar tersebut untuk mengecek menu MBG sebelum dibagikan.
\”Kalau hasil pengecekan menunjukkan tidak layak, pembagian makanan langsung dihentikan demi keamanan anak-anak,\” kata Masripah.
Keunggulan dan Potensi Pengembangan
Ompreng memiliki keunggulan utama dalam kemudahan penggunaan dan akurasi deteksi. Dengan teknologi IoT, alat ini memungkinkan pengguna untuk memantau kondisi makanan secara real-time. Hal ini sangat bermanfaat bagi institusi seperti sekolah, rumah makan, atau bahkan rumah tangga yang ingin memastikan keamanan makanan yang disajikan.
Selain itu, alat ini juga dirancang untuk bisa diakses oleh siapa saja, baik itu orang tua, guru, maupun petugas kesehatan. Dengan adanya indikator visual dan aplikasi pendamping, pengguna tidak perlu memiliki pengetahuan teknis khusus untuk menggunakannya.
Potensi pengembangan Ompreng sangat besar. Dalam jangka panjang, alat ini bisa ditingkatkan untuk mendeteksi lebih banyak jenis bakteri berbahaya dan bahkan memberikan rekomendasi tentang cara penyimpanan makanan yang optimal. Selain itu, alat ini juga bisa diintegrasikan dengan sistem pemerintah atau lembaga kesehatan untuk memperkuat pengawasan terhadap makanan yang beredar di masyarakat.
Dengan inovasi seperti Ompreng, generasi muda kini menunjukkan bahwa mereka mampu menciptakan solusi nyata untuk masalah-masalah yang sering kali diabaikan. Melalui kreativitas dan pemikiran kritis, Alya dan Felda membuktikan bahwa teknologi bisa menjadi alat yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.