Keracunan Pangan Meningkat, Dinkes Sleman Usulkan Penguatan Pengawasan Dapur MBG

·

·

Penyebab Keracunan Massal di Sleman Ditemukan, Bakteri Jadi Pemicu

Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman telah menemukan penyebab keracunan massal yang terjadi pada sejumlah siswa di Kapanewon Mlati dan Berbah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cemaran bakteri menjadi faktor utama dari kejadian tersebut. Temuan ini memicu berbagai usulan perbaikan sistem keamanan pangan yang akan diterapkan di wilayah tersebut.

Upaya Perbaikan Sistem Keamanan Pangan

Menurut Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman, Khamidah, diperlukan penguatan pengawasan terhadap dapur penyedia Makanan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu langkah penting yang diajukan adalah penambahan tenaga ahli sanitasi di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Kami mengusulkan tambah satu lagi, sanitarian,” ujarnya. Menurutnya, saat ini hanya ada ahli gizi dan akuntan yang bertugas, namun hal itu dinilai belum cukup untuk menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan pangan.

Peran Sanitarian dalam Pengawasan

Sanitarian memiliki peran krusial dalam melakukan tindakan preventif. Mereka bertugas memeriksa seluruh aspek kebersihan dan kelayakan dapur sebelum beroperasi. Termasuk memastikan bahwa air yang digunakan sudah memenuhi standar kebersihan.

“Sebelum dapur itu berjalan, air segala macam itu dicek laboratorium. Kesiapan dapurnya, lingkungannya di situ, itu harus dicek sama sanitarianya itu. Minimal airnya secara periodik dicek laboratorium,” jelas Khamidah.

Rekomendasi untuk Pengujian Air

Selain itu, Dinkes Sleman juga merekomendasikan agar kualitas air di setiap dapur wajib diperiksa terlebih dahulu sebelum digunakan untuk memasak. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kontaminasi yang bisa membahayakan kesehatan para siswa.

“Sebelum dapur beroperasi kami juga mengusulkan sebaiknya air diperiksa dulu. Supaya kalau misalnya dicroscek oh ternyata airnya baik, kalau misalnya sudah dipakai ini kan memakai air yang sudah diperiksakan,” tambahnya.

Persyaratan SLHS untuk Standarisasi

Terakhir, Dinkes Sleman menyarankan agar seluruh SPPG segera memproses Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS). Hal ini bertujuan untuk memiliki standar yang jelas dan terukur dalam menjaga keamanan pangan.

“Bahayanya kan dia belum punya layak sehatnya, kalau misalnya kita mau menilai dia layak sehat atau tidak kan jadi nggak tahu. Ya kami menyarankan untuk itu (SLHS) diproses,” tutupnya.

Hasil Laboratorium Mengungkap Jenis Bakteri

Hasil uji laboratorium terhadap sampel sisa makanan dan peralatan menunjukkan adanya cemaran bakteri. Untuk insiden di Kapanewon Berbah, ditemukan tiga jenis bakteri, yaitu E. coli, Staphylococcus, dan Bacillus.

Di Kapanewon Mlati, hasil uji sampel menunjukkan adanya cemaran bakteri Escherichia coli, Clostridium species, dan Staphylococcus. Menurut Khamidah, jenis bakteri ini mengindikasikan sumber kontaminasi yang spesifik.

Dugaan Air sebagai Sumber Kontaminasi

Dugaan bahwa air menjadi biang keladi semakin kuat setelah petugas juga memeriksa ompreng atau kotak makan yang digunakan siswa di Mlati. Hasilnya, ditemukan bakteri Escherichia coli pada wadah tersebut.



Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: VIP2026 Setiap transaksi di askai.my.id.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID

Baca Komik Manga (Askai Manga) di MANGA.AINIME.ID


 

Translate »