Apa Saja Kandungan Ideal Satu Porsi Menu MBG? Ini Saran Ahli Gizi

·

·

Peran Program Makan Bergizi Gratis dalam Edukasi Pangan Lokal

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya bertujuan untuk memberikan makanan kepada siswa, tetapi juga bisa menjadi sarana edukasi penting. Dokter dan ahli gizi masyarakat Tan Shot Yen menilai bahwa MBG seharusnya dimanfaatkan sebagai media untuk memperkenalkan produk pangan lokal kepada anak-anak. Dengan demikian, mereka bisa lebih mengenal hidangan khas daerah masing-masing, bukan hanya sekadar makanan praktis yang kurang bergizi.

Tan menekankan bahwa mengubah pola makan siswa agar terbiasa dengan menu lokal yang sehat dan bergizi membutuhkan proses yang panjang. Ia mengusulkan agar ahli gizi tidak hanya mengawasi dapur, tetapi juga masuk ke sekolah untuk berinteraksi langsung dengan siswa. Proses ini penting agar anak-anak bisa lebih memahami nilai dari makanan lokal yang sehat.

Contoh Menu Lokal yang Bisa Dimasukkan ke MBG

Beberapa contoh menu lokal yang bisa diintegrasikan ke dalam MBG antara lain telur bumbu Bali, boh iteuk peleumak dari Aceh, taluak barendo dari Minang, serta ayam taliwang dari Lombok. Namun, Tan sangat tidak setuju jika menu MBG justru berisi makanan ultra proses seperti biskuit, nugget, atau burger, meskipun berbahan lokal. Menurutnya, hal ini justru akan mengurangi manfaat dari program tersebut.

Cara Membuat Siswa Menyukai Menu Lokal

Untuk membuat siswa menyukai menu lokal, Tan menyarankan agar para ahli gizi di Sekolah Pengadaan Pangan Gizi (SPPG) melakukan focus group discussion (FGD) bersama siswa di sekolah. Dengan cara ini, siswa dapat menyampaikan pendapat mereka tentang menu lokal di daerah masing-masing, sehingga ahli gizi dapat mengetahui jenis makanan apa yang disukai oleh anak-anak.

Setelah itu, ahli gizi dapat menyusun daftar menu lokal terlebih dahulu, lalu melakukan assessment penerimaan melalui food testing. Caranya, siswa diberikan kesempatan memilih menu dari daftar tersebut, bahkan mencicipinya. Ahli gizi bisa membuat porsi kecil untuk dicicipi. Jika anak-anak doyan, menu ini bisa dicentang.

Membuat Bahan Pangan Lokal Lebih Menarik

Bahan pangan lokal juga bisa dibuat lebih menarik sesuai ketertarikan siswa. Misalnya, jika siswa menyebut cilok, maka bisa dibuat bakso ikan yang ditusuk layaknya cilok. Dengan demikian, makanan lokal bisa lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Tantangan Jumlah Porsi MBG

Meski ideal, Tan mengakui bahwa langkah tersebut sulit dilakukan saat ini. Seorang ahli gizi di SPPG bisa mengawasi hingga 3.000 porsi MBG per hari, jumlah yang menurutnya terlalu besar. “Kalau harus mengawasi 3.000 porsi per hari, ya sudah kewalahan duluan di dapur,” ujarnya.

Tan menyebut, idealnya satu ahli gizi cukup mengawasi 300–500 porsi. Jika jumlah menu lebih dari 1.000 porsi per hari, maka harus ada tambahan ahli gizi. Ia menekankan pentingnya pilot project berskala kecil di setiap daerah sebelum MBG dijalankan secara nasional.

Komponen Ideal dalam Satu Porsi Menu MBG

Menurut Tan, menu MBG seharusnya mengikuti pedoman \”Isi Piringku\” dalam Gizi Seimbang. Isi Piringku terdiri dari empat komponen, yakni makanan pokok (karbohidrat), lauk-pauk (protein), sayur-sayuran (vitamin dan mineral), serta buah-buahan.

Misalnya di Lombok, bisa nasi (makanan pokok) dengan ayam taliwang (lauk-pauk), sayurnya urap, lalu ditambah buah setempat. Sayur juga bisa divariasikan sesuai selera anak. Tidak harus daun hijau, tapi bisa wortel atau labu siam.

Sementara itu, buah sebaiknya menggunakan hasil budidaya setempat yang mudah ditemukan, misalnya semangka, pisang, atau jeruk. “Buah setempat apapun yang ada bisa dipakai,” ungkap Tan.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: VIP2026 Setiap transaksi di askai.my.id.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID

Baca Komik Manga (Askai Manga) di MANGA.AINIME.ID


 

Translate »