Mempertahankan Tradisi Kuliner yang Terancam Hilang
London kini menghadapi ancaman akan kehilangan salah satu ikon kuliner tradisionalnya, yaitu pie and mash yang biasanya disajikan bersama jellied eels. Hidangan khas masyarakat Cockney di kawasan East End ini semakin jarang ditemui dan mulai kehilangan popularitasnya. Menurut laporan dari berbagai sumber, para pembuat pie and mash meminta agar hidangan ini mendapatkan status Traditional Speciality Guaranteed (TSG) untuk melindungi keaslian resep dari klaim restoran modern yang sering menggunakan label “tradisional” secara tidak tepat.
Pada abad ke-19, belut Sungai Thames menjadi bahan utama karena harganya terjangkau dan mudah diperoleh. Belut tersebut kemudian diolah menjadi jellied eels dengan cara direbus lalu didinginkan hingga membentuk agar alami. Hidangan ini lalu disajikan bersama pie dan kentang tumbuk, yang pada masa itu sangat populer di kalangan kelas pekerja London.
Saat ini, meskipun isi pie lebih sering menggunakan daging sapi cincang, jellied eels tetap dipertahankan sebagai pelengkap tradisional dengan nilai budaya yang tinggi. Namun, upaya melestarikannya penuh tantangan. Menurut sebuah laporan, banyak warung tradisional di East End terpaksa tutup karena menurunnya minat generasi muda. Hidangan yang dulu begitu dekat dengan identitas kelas pekerja kini bahkan tidak lagi dikenal oleh sebagian anak muda.
Beberapa warung legendaris seperti M. Manze masih setia dengan resep turun-temurun. Belut direbus dalam kaldu berbumbu lalu didinginkan hingga membentuk jeli bertekstur khas. Rasa yang unik dan lembut justru membuatnya terasa asing bagi selera modern yang lebih terbiasa dengan kuliner cepat saji atau internasional.
Kesulitan semakin berat sejak krisis finansial. Penjualan pie and mash dan jellied eels menurun drastis, sementara restoran kontemporer dengan menu inovatif di kawasan seperti Shoreditch kian mendominasi. Di sisi lain, isu lingkungan juga memperparah keadaan. Penelitian yang dilansir UCL News menemukan bahwa sebagian produk jellied eels menggunakan belut Eropa yang berstatus critically endangered. Populasi spesies ini menyusut drastis akibat kerusakan habitat, perubahan iklim, serta pembangunan infrastruktur sungai yang menghambat migrasi alami belut. Upaya budidaya dalam skala besar pun masih sulit dilakukan karena siklus hidup belut yang kompleks.
Masalah transparansi produk juga menjadi sorotan. Anglers Net mencatat, sebuah supermarket besar pernah menuai kritik karena menjual produk jellied eels berlabel “British,” padahal belutnya berasal dari Selandia Baru. Kasus ini memunculkan desakan agar labelisasi lebih ketat, sehingga konsumen mengetahui asal-usul belut yang mereka konsumsi.
Kini, upaya melestarikan pie and mash bukan hanya soal mempertahankan cita rasa klasik, tetapi juga menjaga kelestarian spesies yang terancam punah. Perlindungan resmi melalui status TSG dianggap dapat menjaga identitas kuliner London, sementara regulasi perdagangan dan kesadaran konsumen dibutuhkan demi keberlanjutan lingkungan.
Jika tidak ada langkah nyata, hidangan legendaris ini bukan hanya hilang dari meja makan warga, tetapi juga dari sejarah budaya kota London itu sendiri.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.