Teknologi Iradiasi Pangan: Solusi untuk Mengurangi Food Loss di Indonesia
Di tengah isu ketahanan pangan yang semakin mendapat perhatian, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam hal food loss. Angka kerugian yang terjadi setiap tahun mencapai sekitar Rp551 triliun. Food loss merujuk pada hilangnya pangan yang terjadi sebelum sampai ke konsumen akhir, seperti buah busuk di gudang karena suhu tidak terjaga, ikan rusak saat distribusi, atau beras yang berjamur karena penyimpanan yang tidak tepat.
Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Syaiful Bakhri, menyampaikan bahwa salah satu upaya untuk menekan angka food loss adalah dengan memanfaatkan teknologi iradiasi pangan. Menurutnya, sekitar 56 juta ton pangan hilang setiap tahun, dan ini bisa dicegah melalui teknologi tersebut.
\”Food loss di level nasional itu sampai kurang lebih sekitar 56 juta ton atau sekitar Rp551 triliun per tahun. Itu seharusnya bisa kita cegah, salah satunya melalui teknologi iradiasi,\” ujar Syaiful dalam webinar secara virtual.
Keunggulan Teknologi Iradiasi Pangan
Teknologi iradiasi mampu memperpanjang masa simpan makanan, mengurangi kontaminasi bakteri atau mikroba yang dapat merusak produk pangan, serta mempercepat proses busuk dan kehilangan nutrisi. Beberapa keunggulan dari teknologi ini antara lain:
- Efektif dalam membunuh mikroba dan hama
- Mampu menjangkau hama tersembunyi
- Memastikan kualitas produk tetap terjaga
Dengan pemanfaatan teknologi ini, diharapkan dapat mendukung swasembada pangan yang lebih kuat, kedaulatan pangan yang lebih jelas, serta mengurangi angka food loss.
Peran Teknologi dalam Ekspor Pangan
Peneliti Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi BRIN, Murni Indarwatmi, juga menyatakan bahwa teknologi iradiasi sangat penting dalam menjaga kualitas komoditas pangan yang akan diekspor. Terlebih, beberapa negara seperti Australia, Jepang, dan Tiongkok mewajibkan produk buah-buahan yang diekspor harus melalui proses iradiasi.
\”Sebagaimana diketahui dari berita-berita, beberapa kali ekspor buah-buahan dari Indonesia ditolak, karena adanya kebusukan, atau ditemukan hama berupa belatung dan lalat buah,\” ujar Murni.
Langkah Konkret untuk Meningkatkan Kualitas Pangan
Selain itu, iradiasi juga menjadi solusi untuk mengurangi food loss yang terjadi mulai dari kebun hingga pascapanen, terutama untuk komoditas yang diekspor. Dengan mengadopsi teknologi ini, Indonesia dapat meningkatkan daya saing produk pangan di pasar internasional.
Pemerintah dan lembaga riset terus berupaya untuk memperkenalkan dan mempromosikan teknologi iradiasi sebagai bagian dari strategi pengurangan food loss. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi petani dan produsen, tetapi juga bagi konsumen yang membutuhkan pangan berkualitas dan aman.
Tantangan dan Peluang
Meskipun teknologi iradiasi menawarkan banyak manfaat, ada tantangan yang perlu diatasi. Misalnya, kesadaran masyarakat tentang keamanan dan manfaat teknologi ini masih perlu ditingkatkan. Selain itu, infrastruktur dan sumber daya yang memadai juga diperlukan untuk implementasi skala besar.
Namun, peluang yang terbuka cukup besar. Dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, dan pelaku usaha, teknologi iradiasi dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam menghadapi tantangan pangan di Indonesia.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.