Ahli: Rantai Produksi Harus Bersih, Masyarakat Perlu Pahami Pencegahan Keracunan Makanan

·

·

Pentingnya Mitigasi Keracunan Makanan

Keracunan makanan menjadi topik yang semakin mendapat perhatian setelah peristiwa keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Cihampelas dan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menimbulkan kegundahan di kalangan masyarakat. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba), Santun Bhekti Rahimah, menyampaikan bahwa keracunan makanan bisa terjadi pada siapa saja, kapan pun, dan di mana pun. Ia menekankan pentingnya memahami mitigasi untuk mencegah dampak yang lebih serius.

Langkah Pencegahan Sederhana

Menurut Santun, pencegahan paling dasar dimulai dari rumah dengan membiasakan diri berprilaku hidup bersih dan sehat. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Cuci tangan sebelum menyiapkan atau menyantap makanan
  • Memilih bahan makanan yang segar
  • Menyimpan makanan dengan cara yang benar

Selain itu, sayuran dan buah sebaiknya dicuci menggunakan air bersih, sedangkan makanan matang yang belum dimakan perlu disimpan di lemari pendingin agar tidak cepat basi. Santun juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi makanan yang sudah berubah aroma atau warna karena bisa menjadi tanda makanan tidak laik.

Penerapan Kebersihan di Skala Lebih Luas

Dalam skala yang lebih luas, seperti di sekolah, acara hajatan, atau katering, pencegahan harus lebih ketat. Dapur, peralatan, hingga wadah penyajian mesti bersih dan higienis. Makanan yang disiapkan dalam jumlah besar juga jangan dibiarkan terbuka terlalu lama. Bahkan, mesti didistribusikan dalam kemasan tertutup karena sebagian besar penyakit bawaan makanan berasal dari mikroorganisme yang bisa mengontaminasi bahan pangan sejak masih di ladang, atau masuk kembali saat proses pengolahan.

Pengelolaan Rantai Produksi Makanan

Santun menekankan bahwa seluruh rantai produksi makanan mesti higienis. Pendinginan, pembekuan, pemanasan dengan suhu tinggi, atau pengaturan pH, kata Santun, bisa membantu dalam menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya. Ia juga menegaskan bahwa pangan yang tidak aman bisa mengandung bakteri, virus, parasit, maupun bahan kimia berbahaya yang berhubungan dengan lebih dari 200 jenis penyakit, mulai dari diare hingga kanker.

Dampak pada Masalah Gizi

Kondisi tersebut menurutnya bisa memperburuk masalah gizi, terutama pada bayi, anak kecil, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah. Santun pun mendorong adanya kolaborasi antara Pemerintah, produsen pangan, dan konsumen, sehingga sistem keamanan pangan bisa lebih kuat.

Gejala Keracunan Makanan

Penyakit akibat makanan biasanya menular atau bersifat toksik. Kontaminasi bisa datang dari bakteri seperti Salmonella dan E. coli, racun alami dari bahan tertentu, pestisida yang menempel pada sayuran dan buah, bahkan makanan basi yang dipanaskan ulang. Santun menegaskan bahwa semuanya merupakan ancaman nyata yang tanpa disadari bisa masuk tubuh. Dia juga mendorong masyarakat untuk mengenali gejala keracunan makanan.

Beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang tercemar, tubuh biasanya mulai bereaksi. Mual muncul lebih dulu, kemudian muntah sebagai cara tubuh mengeluarkan zat berbahaya. Tak lama, diare menyusul, seringkali disertai kram atau nyeri perut. Demam ringan, sakit kepala, rasa lemas, dan perut kembung juga sering dialami. Pada kasus berat, gejalanya bisa lebih serius: muntah atau diare berdarah, dan dehidrasi berat.

Tindakan Darurat dan Edukasi Jangka Panjang

Jika gejala-gejala tersebut muncul setelah makan bersama di sekolah, hajatan, atau katering, besar kemungkinan keracunan massal. Ada beberapa langkah darurat yang menurutnya mesti segera dilakukan, yakni menghentikan makan makanan yang dicurigai, mengganti cairan yang hilang untuk mencegah dehidrasi, dan menghindari pemberian obat tanpa petunjuk tenaga medis.

Apabila korban mengalami gejala berat, segera bawa ke fasilitas kesehatan serta melaporkan kejadian tersebut ke puskesmas atau Dinas Kesehatan setempat. Masyarakat juga diminta untuk menyimpan sampel makanan yang dicurigai supaya bisa diperiksa.

Dalam jangka panjang, membangun budaya keamanan pangan menjadi hal penting. Edukasi masyarakat, penerapan standar higiene pada penyedia makanan, serta pembiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di rumah dan sekolah akan membantu mencegah kejadian serupa.

Prioritas Utama Keselamatan Anak-anak

Cahaya Eka Pratiwi dalam jurnalnya yang terbit di ResearchGate pada Juni 2025 mendorong adaptasi dan mengimplementasikan standar keamanan pangan yang lebih ketat, serupa dengan model yang sukses seperti di Finlandia. Undang-undang dan peraturan yang lebih spesifik harus diberlakukan untuk program bantuan makanan berskala besar, mencakup sertifikasi penyedia, pelatihan wajib bagi semua personel (termasuk sukarelawan), dan audit keamanan pangan yang berkala dan tidak terduga.

Selain itu, Pemerintah perlu membentuk badan pengawasan independen yang punya kewenangan penuh memantau pelaksanaan MBG, termasuk inspeksi mendadak, pengujian sampel makanan, dan pelaporan langsung kepada publik tanpa intervensi politik. Hal ini penting guna memastikan masalah tidak lagi \”dianggap sepele.\”

Jika evaluasi menunjukkan bahwa risiko keamanan pangan tidak dapat dikelola secara efektif dalam format program saat ini, pemerintah harus mempertimbangkan untuk menghentikan sementara program MBG atau melakukan penyesuaian besar-besaran, misalnya dengan membatasi cakupan geografis, mengurangi skala, atau mengubah mekanisme penyaluran hingga standar keamanan pangan dapat dipastikan sepenuhnya. Yang menjadi prioritas utama adalah keselamatan dan kesehatan anak-anak.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: VIP2026 Setiap transaksi di askai.my.id.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID

Baca Komik Manga (Askai Manga) di MANGA.AINIME.ID


 

Translate »