Inovasi Sedekah Digital di Masjid Raya At-Taqwa Cirebon
Di tengah perubahan zaman, tradisi sedekah yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Cirebon kini mengalami transformasi. Di Masjid Raya At-Taqwa, salah satu masjid terbesar di Kota Cirebon, ritual infak yang sebelumnya dilakukan melalui kotak amal kayu kini berubah menjadi metode digital yang lebih praktis dan efisien.
Perubahan dalam Ritual Infak
Setelah azan Duhur berkumandang, jemaah yang baru saja menunaikan salat berjamaah tidak lagi langsung menuju kotak amal kayu. Mereka kini mengambil ponsel mereka dan men-scan kode QR yang terpampang di sudut kotak amal. Proses ini memungkinkan jemaah untuk berinfak tanpa harus membawa uang tunai. Bagi Nisa (31), warga Harjamukti, cara ini sangat membantu karena ia tidak perlu mencari uang kecil atau khawatir kehabisan uang saat ingin bersedekah.
“Alhamdulillah terbantu sekali. Meski tidak bawa uang cash, saya tetap bisa berinfak lewat QRIS,” ujarnya dengan senyum lega. Ia hanya butuh hitungan detik untuk berinfak, tanpa harus mencari uang kecil. Ritual sedekah yang sejak lama menjadi tradisi masyarakat pesisir Cirebon kini masuk ke babak baru, digital, praktis dan tetap penuh makna ibadah.
Sejarah dan Makna Tradisi Sedekah
Budaya sedekah sudah mengakar di Cirebon sejak masa Sunan Gunung Jati, salah satu Wali Songo. Tradisi memberi bagi fakir miskin, anak yatim, atau pembangunan rumah ibadah bukan hanya soal pahala, melainkan juga modal sosial yang memperkuat kohesi masyarakat pesisir. Masjid Raya At-Taqwa, yang berdiri megah di jantung Kota Cirebon, melanjutkan warisan itu.
Selama puluhan tahun, kotak amal kayu di sudut masjid tak pernah sepi. Namun, seiring berkembangnya teknologi, pola berinfak ikut berubah. “Sejak 2017, At-Taqwa mulai memperkenalkan QRIS untuk infak. Awalnya hanya segelintir yang pakai, tapi setelah pandemi Covid-19, jumlahnya melonjak pesat,” ungkap Ibnu Malik, Supervisor Masjid At-Taqwa.
Penggunaan QRIS dalam Transaksi Infak
Data internal masjid mencatat, pada Agustus 2025, infak digital yang masuk mencapai Rp 9,8 juta. Angka itu memang belum menyaingi infak tunai Rp 109 juta, tetapi tren pertumbuhannya tiga kali lipat dibanding awal penerapan. “Bagi kami, QRIS bukan sekadar alat. Ini jembatan agar tradisi sedekah tetap lestari di era serba digital,” tambah Ibnu.
Bank Indonesia melihat langkah At-Taqwa sebagai bagian penting dari transformasi ekonomi syariah di Jawa Barat. “Kami mendorong penggunaan QRIS di rumah ibadah, termasuk masjid, sebagai bagian dari ekosistem pembayaran digital yang Cepat, Mudah, Murah, Aman dan Handal,” jelas Wayan Sri Widhiastuti, Manager Kantor Perwakilan BI Cirebon.
Manfaat dan Edukasi QRIS
Menurutnya, manfaat QRIS tidak berhenti pada kemudahan jamaah. Lebih dari itu, transaksi digital meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. “Dengan QRIS, semua tercatat. Risiko salah catat atau penyalahgunaan dana bisa ditekan. Jamaah pun lebih percaya,” tegasnya.
Bank Indonesia bahkan aktif menggelar edukasi. Pada Juni 2023, misalnya, mereka melatih pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI), Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan Baznas se-Ciayumajakuning terkait tips aman bertransaksi digital. Langkah ini menunjukkan bahwa sedekah digital bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari literasi keuangan syariah yang inklusif.
Pertumbuhan QRIS di Wilayah Ciayumajakuning
Tak hanya At-Taqwa, penggunaan QRIS juga menjalar ke berbagai sektor di Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan). Per Agustus 2025, transaksi QRIS di wilayah ini mencapai 50,9 juta kali dengan nilai total Rp 5,5 triliun. Jumlah merchant pun melonjak hingga 796.499 unit, mulai dari warung kopi, pedagang pasar, UMKM kuliner, hingga rumah ibadah.
Secara nasional, pengguna QRIS mencapai 57,6 juta orang. Di Jawa Barat, angkanya 12,7 juta, tumbuh sekitar 9 persen dibanding tahun sebelumnya. “Budaya sedekah digital mampu menjembatani tradisi lama dengan gaya hidup modern. Bahkan jamaah bisa bersedekah kapan saja melalui fitur QRIS TTM (Tanpa Tatap Muka),” jelas Wayan.
Dampak Ekonomi Syariah
Di At-Taqwa, dana infak digital bukan hanya untuk listrik atau air masjid. Uang itu juga disalurkan untuk santunan anak yatim, bantuan fakir miskin, hingga dukungan modal usaha kecil berbasis syariah. “Anak-anak muda sekarang jarang bawa cash, tapi niat sedekah tetap tinggi. Dengan QRIS, semangat itu terfasilitasi, yang penting bukan soal tunai atau digital, tapi keikhlasan. QRIS hanya memudahkan,” kata Ustadz Ahmad, penceramah tetap masjid.
Dengan cara ini, masjid bukan sekadar pusat ibadah, tapi juga pusat pemberdayaan ekonomi umat. Infak digital menjadi sumber modal bergulir yang menopang UMKM berbasis syariah di sekitar masjid.
Keberlanjutan Ibadah dalam Era Modern
Cirebon dikenal sebagai Kota Wali. Julukan ini bukan hanya simbol religius, tetapi juga identitas budaya yang sarat kearifan lokal. Tradisi memberi, gotong royong dan solidaritas sosial adalah denyut kehidupan sehari-hari. Kini, melalui QRIS, tradisi itu menemukan bentuk baru. Sedekah digital menjadi cara agar kearifan lokal tetap hidup, sekaligus masuk ke ekosistem inklusi keuangan modern.
“Dengan adanya QRIS, rumah ibadah mendapat jaminan MDR 0 persen, sehingga dana donasi diterima penuh tanpa potongan. Itu penting agar manfaatnya bisa langsung kembali ke masyarakat,” jelas Wayan.
Transformasi ini tentu tidak bisa berjalan sendiri. BI bersinergi dengan komunitas lokal, pemerintah daerah dan perbankan. Edukasi dilakukan berlapis, dari tokoh agama, takmir masjid, hingga jamaah muda yang melek digital. Koordinasi juga diperkuat dengan penyelenggara jasa sistem pembayaran (PJSP) agar pendaftaran QRIS rumah ibadah semakin cepat.
Bahkan, BI menggandeng perbankan syariah untuk menyalurkan sebagian dana infak digital ke program pemberdayaan umat. Inilah bukti bahwa kearifan lokal, teknologi, dan kebijakan negara bisa berpadu membangun ekonomi berkelanjutan.
BI menegaskan, sedekah digital bukan tren musiman. Untuk menjaga keberlanjutannya, ada tiga strategi utama, yakni edukasi masyarakat agar yakin dengan keamanan transaksi digital, koordinasi dengan bank dan PJSP agar dana segera masuk ke rekening masjid tanpa hambatan dan kebijakan MDR 0 % untuk rumah ibadah, sehingga infak diterima utuh.
Dengan cara ini, sedekah digital bukan hanya ibadah personal, tapi juga instrumen ekonomi syariah yang menopang pembangunan berkelanjutan. Kini, Masjid Raya At-Taqwa berdiri bukan hanya sebagai ikon religius Kota Cirebon, tetapi juga sebagai simbol transformasi ekonomi religius.
Tradisi sedekah yang berakar sejak Sunan Gunung Jati tetap hidup, meski wadahnya berubah, yakni dari kotak kayu ke barcode digital. “Dengan QRIS, sedekah jadi lebih mudah, cepat, dan sesuai zaman. Inilah keberlanjutan ibadah dalam konteks ekonomi modern,” pungkas Ustadz Ahmad.
Di tengah hiruk pikuk modernisasi, cahaya layar ponsel di halaman At-Taqwa bukan sekadar kilatan teknologi. Ia adalah cahaya harapan, bahwa kearifan lokal bisa terus hidup, sekaligus mendorong pemerataan ekonomi berkelanjutan di Jawa Barat.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.