Francesco Bagnaia, pembalap Ducati, menunjukkan tanda-tanda positif menjelang penyelenggaraan seri MotoGP Indonesia 2025 akhir pekan ini. Rasa percaya diri yang berbeda kini terasa dalam dirinya menghadapi balapan di Sirkuit Mandalika, Lombok.
Sebagai murid kebanggaan Valentino Rossi, Bagnaia baru saja mencatatkan prestasi gemilang pada GP Jepang akhir pekan lalu dengan menyapu bersih kemenangan. Ia berhasil menjadi yang terbaik dalam sesi sprint race maupun Grand Prix di lintasan Mobility Resort Motegi. Hasil tersebut menjadi angin segar bagi Bagnaia menjelang seri ke-18 MotoGP 2025.
Kemenangan ini juga mendapat perhatian dari Carlo Pernat, seorang pengamat MotoGP asal Italia. Menurutnya, Bagnaia layak mendapatkan apresiasi karena berhasil bersinar di momen penting Marc Marquez. Kemenangan Bagnaia turut melengkapi hari istimewa Ducati di Jepang setelah Marquez, rekan setimnya, mengunci gelar juara dunia.
Pernat merasa memiliki dosa dan hutang maaf kepada Bagnaia karena sebelumnya meremehkannya. Meskipun sempat mengalami rentetan hasil buruk, Bagnaia berhasil membalikkan pandangan publik. Dalam pandangan Pernat, kesulitan yang dialami Bagnaia sebelumnya disebabkan oleh masalah psikologis. Hal ini terjadi karena ia harus bertanding dengan rider hebat seperti Marquez, yang memberikan tekanan besar.
\”Pepuk tangan juga layak diberikan kepada Bagnaia,\” ujar Pernat. \”Kami berutang permintaan maaf kepadanya, dari pihak saya, karena saya yakin itu hanya masalah psikologis.\”
\”Sebagian alasannya adalah keberadaan Marquez di sisinya. Memilikinya sebagai rekan setim, seseorang yang telah menghancurkan hampir semua rekan setimnya, membuatnya hampir mustahil untuk menolak,\” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pernat juga mengatakan bahwa keberhasilan Bagnaia dalam tampil baik disebabkan oleh penyesuaian yang tepat. \”Namun, ada juga alasan teknis. Di Jepang, mereka praktis memberinya motor 2024,\” jelas Pernat. \”Itu hal kecil, tetapi itulah yang dia cari dan yang tidak dapat dia kembangkan.\”
\”Dengan Marquez di dekatnya, segala sesuatu yang mudah menjadi sulit, dan yang sulit menjadi hampir mustahil,\” imbuhnya.
Untuk balapan yang tersisa, Pernat berharap Bagnaia bisa tampil konsisten dan menyajikan persaingan yang menarik saat beradu cepat di lintasan. \”Saya rasa Bagnaia telah mengalami momen terburuk dalam karier dan hidupnya,\” ujar Pernat menjelaskan. \”Dia telah mengatasinya, dan sekarang saya berharap lima Grand Prix berikutnya akan menghibur kita, seperti kejuaraan dunia mini.\”
\”Bagnaia dalam kondisi seperti ini yang mampu bersaing dengan Marquez, menurut saya, kita masih bisa menciptakan kejuaraan dunia kecil,\” tambahnya.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.