Inflasi Bulanan September 2025 Mencapai 0,21 Persen
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan pada September 2025. Kenaikan ini dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas seperti cabai merah dan daging ayam ras. Hal ini terjadi di tengah penurunan produksi hortikultura serta tren kenaikan harga emas dunia.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M. Habibullah, menjelaskan bahwa beberapa peristiwa memengaruhi indikator harga sepanjang September 2025. Salah satunya adalah penurunan produksi cabai yang mencapai titik terendah selama tahun ini. Selain itu, produksi bawang merah masih berlangsung dan harga emas yang mencapai rekor baru.
\”Kementerian Pertanian melalui Early Warning System (EWS) mencatat produksi cabai menurun pada September 2025, bahkan terendah selama tahun ini. Sedangkan untuk komoditas bawang merah, produksinya meningkat pada September 2025. Panen bawang merah masih berlangsung di beberapa daerah sentral produksi, seperti Bima, Brebes, Nganjuk, dan Solok,\” jelas Habibullah di kantornya, Rabu (1/10).
Dari sisi harga global, lonjakan harga emas turut memberikan tekanan inflasi domestik. BPS mencatat bahwa emas perhiasan memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen. Harga logam mulia mencapai rekor baru yaitu Rp 2.234.000 per gram pada 30 September 2025.
Secara tahunan, inflasi mencapai 2,65 persen. Sementara itu, secara tahun kalender, inflasi berada di posisi 1,82 persen. Terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari Rp 108,51 pada Agustus 2025 menjadi Rp 108,74 pada September 2025.
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau Jadi Penyumbang Terbesar
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar, yakni 0,38 persen. Dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,11 persen. Kontributor utamanya adalah cabai merah dan daging ayam ras, masing-masing memberikan andil inflasi 0,13 persen.
\”Komoditas lainnya yang turut mendorong inflasi antara lain sigaret kretek mesin (SKM), biaya kuliah perguruan tinggi, cabai hijau, dan sigaret kretek tangan (SKT), dengan andil inflasi masing-masing 0,10 persen,\” ujar Habibullah.
Sebanyak 24 provinsi mengalami inflasi. Sementara 14 provinsi lainnya mencatatkan deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Riau dengan kenaikan sebesar 1,11 persen. Sedangkan deflasi terdalam dialami oleh Papua Selatan, yakni 0,13 persen.
Habibullah menjelaskan bahwa secara historis, komoditas cabai merah dan daging ayam ras dalam tiga tahun terakhir (2023-2025) cenderung mengalami deflasi di September. Kecuali pada September 2020. Namun, tren ini berubah di September 2025.
Sementara itu, beras yang biasanya mengalami inflasi di September dalam empat tahun terakhir (2021-2024), justru mengalami deflasi sebesar 0,13 persen. Dengan andil deflasi sebesar 0,01 persen. Deflasi beras secara bulanan di September ini adalah deflasi kedua di 2025. Sebelumnya, terjadi deflasi komoditas beras di April 2025.
\”Beras menjadi salah satu komoditas yang meredam laju inflasi September ini, meskipun sebelumnya selalu memberi andil inflasi di bulan yang sama dalam beberapa tahun terakhir,\” ujarnya.
Selain bawang merah dan beras, beberapa komoditas lain juga memberikan andil deflasi. Seperti tomat (0,03 persen), bawang putih (0,09 persen), cabai rawit, ketimun, dan biaya sekolah menengah atas. Masing-masing juga menyumbang deflasi sebesar 0,09 persen.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.