Keracunan MBG di Sleman: Bakteri Ditemukan di Makanan & Ompreng MBG

·

·

Penemuan Cemaran Bakteri pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menemukan cemaran bakteri pada sampel makanan dan peralatan makan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Kapanewon Mlati dan Berbah, Sleman, pada Agustus lalu. Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya bakteri yang mengkontaminasi makanan dan alat makan (ompreng) yang digunakan dalam program tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati, menjelaskan bahwa hasil uji laboratorium mendeteksi adanya bakteri E. coli pada air serta beberapa makanan dan alat makan di wilayah Mlati. Selain itu, ditemukan juga bakteri Staphylococcus. “Kami melakukan uji lab dengan swab pada omprengnya dan ternyata ada cemaran bakteri e-coli,” ujarnya.

Di wilayah Berbah, hasil uji laboratorium juga menunjukkan adanya cemaran bakteri E. coli pada sampel makanan MBG. Namun, tidak dilakukan pengujian swab pada ompreng di sana. Meskipun demikian, penemuan ini menjadi peringatan penting terkait keamanan pangan yang disajikan dalam program MBG.

Yuli menegaskan bahwa meskipun ditemukan cemaran bakteri, sumber pasti penyebab keracunan belum dapat dipastikan. E. coli biasanya berasal dari air mentah yang tercemar. Oleh karena itu, penting untuk memperkuat standar keamanan pangan di setiap Sistem Penyediaan Pangan (SPPG).

Upaya Peningkatan Keamanan Pangan

Dinkes Sleman merekomendasikan beberapa langkah untuk meningkatkan keamanan pangan. Pertama, sosialisasi dan pelatihan keamanan pangan harus diperkuat. Kedua, penerapan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebelum beroperasi wajib dilakukan. Ketiga, pemeriksaan kualitas air secara berkala diperlukan. Keempat, penambahan tenaga sanitarian di setiap SPPG akan membantu memastikan proses penyajian makanan tetap aman. Kelima, pencatatan perjalanan makanan dari bahan mentah hingga sisa makanan juga harus diterapkan.

“Lebih baik lagi jika sudah ada SLHS bagi SPPG sebelum beroperasi. Perlu ditambahkan nakes Sanitarian pada setiap SPPG,” katanya.

Tindakan Pencegahan di Sekolah

Selain itu, Dinkes Sleman juga melakukan tindakan pencegahan di sekolah-sekolah yang terdampak. Salah satu upaya adalah memberikan pemahaman tentang Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan dan penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Guru diharapkan ikut memastikan kelayakan makanan sebelum diberikan kepada siswa, termasuk dengan mencium, mencicip sedikit, atau mengecek teksturnya.

“Apabila makanan tidak layak untuk diberikan ke siswa jangan diberikan dan laporkan ke SPPG,” ujarnya.

Korban Keracunan Pangan di Mlati dan Berbah

Dalam kasus keracunan MBG di Mlati, sebanyak 212 pelajar dari empat SMP menjadi korban. Dari jumlah tersebut, 19 pelajar sempat menjalani rawat inap di RSUD Sleman dan satu pelajar di RSA UGM. Kasus ini terjadi pada pertengahan Agustus 2025.

Di wilayah Berbah, ada 135 pelajar SMP dan dua guru yang menjadi korban. Dari jumlah tersebut, tiga orang sempat menjalani rawat jalan. Kasus ini terjadi pada akhir Agustus 2025.

Dengan adanya temuan ini, Dinkes Sleman berharap agar semua pihak lebih waspada terhadap keamanan pangan, terutama dalam program yang menyentuh anak-anak. Keterlibatan aktif dari seluruh komponen, mulai dari penyedia makanan hingga pengawas di sekolah, sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: VIP2026 Setiap transaksi di askai.my.id.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID

Baca Komik Manga (Askai Manga) di MANGA.AINIME.ID


 

Translate »