Penggunaan Chromebook di SDN Banjarsengon 02 untuk Pembelajaran Digital
Laptop Chromebook yang diberikan sebagai bantuan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada masa Menteri Nadiem Anwar Makarim tahun 2022, kini dimanfaatkan secara optimal oleh SDN Banjarsengon 02 di Kecamatan Patrang, Jember, Jawa Timur. Meskipun saat ini laptop tersebut sedang dalam pemeriksaan Kejaksaan Agung dan membuat Nadiem Makarim menjadi tersangka, sekolah ini tetap memanfaatkannya dengan sistem kelas digital.
Awalnya, Chromebook tersebut sempat disimpan di lemari karena kurang digunakan secara maksimal. Namun sejak tahun 2024, penggunaannya mulai dioptimalkan dengan menerapkan sistem pembelajaran digital. Kepala SDN Banjarsengon 02, Guntur Bayu Wibisono, menjelaskan bahwa tujuan utama penggunaan Chromebook adalah agar siswa terbiasa dengan metode pembelajaran berbasis teknologi.
“Awalnya laptop Chromebook hanya menumpuk di lemari. Saya pikir jika tidak digunakan akan rusak. Maka kami sepakat menjadikannya sebagai sarana kelas digital,” ujar Guntur.
Dalam sistem pembelajaran kelas digital ini, siswa menggunakan Chromebook untuk berbagai aktivitas belajar, seperti membuat video presentasi atau mengakses materi pembelajaran digital. Guru juga memanfaatkan Learning Management System (LMS) untuk mengelola kelas. Setiap siswa memiliki ID card khusus dengan barcode yang terhubung ke aplikasi LMS. Dengan cara ini, guru bisa melakukan absensi siswa secara otomatis dengan scan barcode melalui smartphone.
Setiap siswa juga memiliki akun belajar khusus. Guru dapat mengunggah materi, bab pelajaran, hingga tugas dengan tenggat waktu yang lebih jelas. Model pembelajaran ini juga memungkinkan orang tua untuk memantau perkembangan belajar anak secara langsung melalui sistem tersebut.
“Kami ingin membangun komunikasi online dengan orang tua. Dengan begitu, mereka bisa ikut memantau progres belajar anak saat di rumah,” kata Guntur.
Kolaborasi Belajar Lintas Sekolah
Tidak hanya untuk pembelajaran internal, kelas digital ini juga memungkinkan siswa terhubung dengan sekolah lain di daerah berbeda. SDN Banjarsengon 02 sudah terhubung dengan SD di Situbondo dan Pasuruan. Siswa bisa belajar secara hybrid, berdiskusi online, dan membahas persoalan bersama.
SDN Banjarsengon 02 memiliki 15 unit Chromebook dan 7 komputer untuk mendukung pembelajaran digital. Sebagian siswa juga menggunakan laptop pribadi dan smartphone. Beberapa aplikasi gratis seperti Google Sites, Canva, dan Google Docs menjadi andalan guru maupun siswa dalam menunjang pembelajaran digital.
Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah jaringan internet. “Kami sudah menyiapkan koneksi 50 Mbps, tapi ternyata belum mencakup semua kelas,” tuturnya.
Program kelas digital saat ini diterapkan khusus untuk siswa kelas IV, V, dan VI. Harapan dari penerapan teknologi sejak dini adalah meningkatkan literasi digital sekaligus membuat pembelajaran lebih interaktif.


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.