Mengapa Siswa Jarang Keracunan Makanan Kaki Lima Tapi Sakit karena MBG? Ahli Gizi Jelaskan Perbedaannya

·

·

Isu Keracunan Makanan di Sekolah dan Kaitannya dengan Jajanan Kaki Lima

Kasus keracunan makanan yang terjadi akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bandung Barat menjadi perhatian besar bagi masyarakat, khususnya para siswa. Dalam laporan yang diterima, terdapat total 1333 korban dari dua kecamatan. Hal ini memicu diskusi luas di media sosial, terutama terkait hubungan antara kasus tersebut dengan kebiasaan siswa yang sering mengonsumsi jajanan kaki lima atau street food.

Banyak warganet menyampaikan pendapat mereka melalui berbagai unggahan di platform X. Salah satu pengguna, @t*i*r, menulis bahwa MBG pasti memiliki masalah karena jumlah korban yang begitu besar. Ia juga menyatakan bahwa siswa seharusnya sudah kebal terhadap racun apa pun, mengingat mereka sering mengonsumsi jajanan seperti cireng, cilok, cipuk, cimol, cibay, cirambay, dan seblak.

Selain itu, akun @C*k**s menambahkan bahwa jajanan kaki lima tidak selalu disajikan dalam kondisi higienis. Ia menyoroti bagaimana penjual sering kali menyentuh uang terlebih dahulu sebelum menyentuh makanan, namun tidak ada keluhan pencernaan yang signifikan.

Pandangan Ahli Gizi Mengenai Keracunan Makanan

Menanggapi isu ini, dokter gizi masyarakat Tan Shot Yen memberikan penjelasan tentang potensi keracunan makanan akibat konsumsi jajanan kaki lima. Menurutnya, meskipun jarang terjadi, keracunan bisa saja terjadi dalam kondisi tertentu, yang ia sebut sebagai \”sedang tidak beruntung\”.

Tan menjelaskan bahwa data keracunan makanan akibat street food tidak selalu tercatat secara spesifik, sehingga sulit untuk mengetahui angka pastinya. Ia mencontohkan bahwa seseorang yang tinggal di Depok dan Pasar Baru bisa saja mengalami keracunan setelah membeli jajanan pinggir jalan, tetapi tidak saling tahu satu sama lain.

Ia juga menekankan bahwa street food biasanya dimasak dalam suhu panas, seperti bakso dan mie ayam, sehingga mengurangi risiko keracunan mikroba. Namun, ia menyarankan agar masyarakat tetap waspada terhadap bahan-bahan tambahan seperti bawang goreng, kerupuk, dan sambal yang mungkin telah diolah dalam waktu lama.

Masalah Waktu Pengolahan dan Penyajian MBG

Sementara itu, Tan menyoroti pentingnya waktu pengolahan dan penyajian makanan. Menurutnya, makanan memiliki suhu kritis yaitu antara 5 hingga 60 derajat Celcius, di mana bakteri dan jamur mudah berkembang. Oleh karena itu, makanan sebaiknya dikonsumsi dalam waktu 2-4 jam setelah dimasak.

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bandung, Ali Khomsan, menyetujui pandangan tersebut. Ia menilai bahwa jajanan kaki lima biasanya dimasak dalam suhu yang sangat panas, sehingga risiko keracunan mikroba menjadi lebih kecil. Namun, ia menegaskan bahwa masyarakat harus tetap waspada terhadap bahan-bahan berbahaya seperti boraks, formalin, dan pewarna yang tidak sehat.

Ali juga menyebutkan bahwa MBG disajikan kepada siswa dalam waktu yang lama sejak dimasak. Hal ini dapat memicu kontaminasi mikroba, sehingga menyebabkan keracunan. Ia menambahkan bahwa SPPG (Sekolah Perlu Pemantauan dan Pengawasan Gizi) menemukan beberapa masalah, seperti makanan basi, bahan tidak berkualitas, dan pengabaian aspek keamanan pangan.

Kesimpulan

Dari berbagai perspektif, baik dari warganet maupun ahli gizi, terlihat bahwa keracunan makanan bisa terjadi akibat berbagai faktor, termasuk waktu pengolahan, higienitas, dan kualitas bahan. Meskipun jajanan kaki lima umumnya aman, tetap perlu diwaspadai potensi risikonya. Sementara itu, kasus MBG menunjukkan pentingnya pengawasan dan pengelolaan makanan yang lebih baik, terutama dalam lingkungan sekolah.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: VIP2026 Setiap transaksi di askai.my.id.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID

Baca Komik Manga (Askai Manga) di MANGA.AINIME.ID


 

Translate »