Sejarah Nasi Padang yang Berubah Harga
Entah sejak kapan, nasi padang (Naspad) memiliki versi dengan harga 10 ribu rupiah. Dulu, sewaktu masih tinggal di Semarang, tahun 2013 ke belakang, saya ingat bahwa harga nasi padang termurah yang pernah saya beli berkisar 15 ribuan. Harga tersebut tergolong murah karena berada di dekat pabrik.
Jika melihat lebih jauh ke belakang, sejak tahun 2009 saat masih kuliah, nasi padang adalah salah satu makanan mewah yang harganya selalu di atas 15 ribu rupiah. Meski bagi sebagian orang harganya tergolong murah, bagi mahasiswa tetap saja mahal. Karena dulu, kalau membeli nasi warteg, saya hanya menghabiskan 4000 sampai 5000 rupiah dengan lauk seadanya. Maka bisa dikatakan pada masa itu, kasta nasi padang cukup tinggi dibandingkan menu-menu lain.
Saat pindah ke Jakarta, tiba-tiba banyak menemukan nasi padang dengan harga 10 ribuan yang berseliweran di mana-mana. Tidak selalu tepat 10 ribu, bisa saja 11 atau 12 ribu, tapi secara umum murah meriah untuk kategori waktu tersebut.
Pernah suatu kali saya bilang ke seorang teman di Semarang bahwa di Jakarta ada nasi padang yang harganya hanya 10 ribuan. Ia heran dan takut bahwa naspad yang saya maksud tidak higienis dan mencurigakan. Di Semarang pada masa itu, naspad 10 ribu belum ada, maka tak heran jika teman saya juga heran. Sekarang kabarnya sudah ada, meskipun jumlahnya belum sebanyak di Jakarta dan sekitarnya.
Porsinya memang tidak sebanyak jika beli dengan harga normal, tapi cukup untuk saya yang punya tampungan perut tak seberapa. Ada beberapa penjual yang membolehkan kita memilih lauk rendang, tapi ada juga yang tidak. \”Kalau sama rendang harganya jadi 12 ribu,\” kata penjual naspad langganan saya di Depok. Ya, tak apa-apa, masih sama-sama murah juga.
Awal saya pindah ke Depok, penjual naspad langganan saya belum menjual yang versi harga 10 ribu, namun beberapa tahun belakangan mereka juga mengikuti jejak yang lain. Katanya, ini dilakukan karena mereka tak ingin kehilangan pelanggan. Tak dipungkiri, negeri ini masih didominasi oleh harga murah.
Sejak naspad 10 ribu merambah ke Depok, saya otomatis menjadikan makanan ini sebagai menu favorit keluarga. Kalau capek atau tidak sempat memasak, nasi padang menjadi solusinya! Jika ada tukang yang sedang membangun, nasi padang solusinya! Jika ada saudara datang dadakan, nasi padang solusinya! Nasi padang mendadak populer dan menjadi solusi untuk berbagai permasalahan rumah tangga.
Saya pribadi adalah penggemar masakan Padang, apapun itu rasanya seperti enak saja. Ada sate padang, soto padang, lontong sayur padang, soto padang, dan yang menjadi rajanya yaitu nasi padang itu sendiri. Entah mengapa masakan orang Padang semuanya enak. Bahkan masakan rumahan pun juga enak.
Pernah saya disuguhi makanan oleh orang Padang, padahal menunya hampir sama dengan yang kita makan seperti ayam cabe ijo, sambal goreng ati ampela dan sejenisnya, tapi tetap saja rasanya luar biasa enak. Kabarnya sih itu karena orang Padang berani bermain dengan bumbu-bumbu, tapi itu entah benar entah tidak.
Rasa nasi padang tak pernah gagal, di manapun dia berada. Saya pernah mencobanya di mall, di warung biasa, di pinggir jalan hingga gerobakan, semuanya enak, tak ada yang gagal.
Belakangan ini saya kembali cukup sering membeli nasi padang 10 ribuan. Alasannya adalah karena saya tidak memasak. Suami tengah dinas di luar kota dan saya malas kalau harus memasak untuk diri sendiri. Bukankah praktis membeli nasi padang yang cuma 10 ribu rupiah?
Terkadang satu porsi itu saja membuat saya cukup kenyang hingga malam, sehingga saya tak perlu lagi memikirkan menu selanjutnya. Menu nasi padang favorit saya adalah ayam bakar. Lagi-lagi menurut saya, tak ada ayam bakar yang seenak bikinan warung nasi padang. Bumbunya tidak terlalu manis dan aromanya masuk ke dalam-dalam.
Empuknya daging berpadu dengan kuah kental dan bumbu sambal ijo dengan nasi yang selalu hangat, bueeh. Rasanya membuat saya merasa bahagia dan puas.
Dari situlah tulisan ini lahir. Dari gigitan per gigitan yang melahirkan rasa nikmat dan puas yang tak berkesudahan. Saking enaknya, saya tanpa sadar berterima kasih ke Allah Swt dan ke penjual yang sudah susah payah membuatnya.
Entah berapa rupiah laba yang mereka hasilkan dari sebungkus nasi padang 10 ribuan. Bisa jadi mepet atau malah tidak terlalu menguntungkan. Bisa jadi mereka hanya menjualnya sebagai subsidi silang dengan yang harga normal.
Memikirkan itu membuat saya merasa bersalah. Haruskah makanan senikmat ini dihargai 10 ribu rupiah? Lalu timbullah dilema, jika membeli harga normal porsinya terlalu banyak untuk saya dan akan menimbulkan sisa makanan yang akan menjadi tumpukan sampah.
Berapapun laba yang mereka hasilkan, semoga menjadi keberkahan bagi usaha mereka. Biar bagaimanapun mereka sudah memuaskan dan mengenyangkan perut banyak orang. Panjang umur penjual nasi padang, padamu perut lapar ini kualamatkan!


Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.