Program Makan Bergizi Gratis Kembali Diperhatikan
Beberapa waktu lalu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian setelah ditemukan adanya makanan yang tidak layak konsumsi di dua sekolah di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Masalah ini terjadi di SMAN 5 Bulukumba dan SDN 249 Daloba di Kecamatan Kajang.
Banyak siswa dan orang tua merasa khawatir ketika melihat belatung menetas pada tempe dan pisang yang disajikan sebagai bagian dari menu MBG. Amri, salah satu wali siswa SMAN 5 Bulukumba, mengungkapkan bahwa banyak ulat ditemukan dalam omprengan makanan tersebut. Ia menyampaikan keluhan ini pada hari Selasa (30/9/2025).
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bulukumba, Wahyu Sakti, mengatakan bahwa pihaknya sudah menindaklanjuti laporan tersebut. “Laporan ini sudah sampai ke pimpinan dan sudah kami lakukan teguran. Selanjutnya menunggu petunjuk pimpinan,” tegasnya.
Temuan ini viral setelah video yang menampilkan pisang dan tempe berulat beredar di sejumlah grup media sosial. Sebelumnya, MBG di Kecamatan Ujung Bulu juga pernah ditemukan basi. Hal ini mendapat perhatian dari Wakil Bupati Bulukumba A. Edy Manaf, yang menyayangkan masih adanya menu MBG tidak layak konsumsi.
Pendekatan Berbeda di Kecamatan Ujung Loe
Berbeda dengan kasus di Kajang dan Ujung Bulu, pengelola MBG di Kecamatan Ujung Loe memastikan bahwa pihaknya melibatkan ahli gizi dalam setiap proses. Basri Yulianto, pengelola MBG Ujung Loe, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan kontrol oleh ahli gizi dan koordinator tim relawan packing. Ini dilakukan untuk menjaga kebersihan dan memastikan nilai gizi terpenuhi.
Menurut Basri, bahan baku dicuci menggunakan air bersih, lalu diolah oleh tim relawan. Setelah dimasak, makanan disimpan di ruangan ber-AC atau berkipas hingga dingin sebelum dikemas. Setiap hari, unit MBG Ujung Loe menyalurkan 2.899 omprengan untuk siswa, sekaligus memberdayakan tenaga lokal.
Lonjakan Kasus Keracunan
Di tengah temuan ini, angka keracunan akibat MBG terus meningkat. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat 8.649 siswa menjadi korban per 27 September 2025, dengan 2.197 kasus terjadi hanya dalam sepekan terakhir. Menanggapi lonjakan kasus, Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Makassar menyatakan siap membantu pemeriksaan bila ada koordinasi dengan BGN.
Kepala BB Labkesmas, dr Irene, menyebutkan bahwa pihaknya juga mendukung penerbitan sertifikat higienitas dan sanitasi bagi setiap dapur MBG. Menurutnya, penyebab keracunan perlu diteliti lebih lanjut.
“Keracunan bisa terjadi bukan hanya karena bahan makanan, tapi juga pola konsumsi. Misalnya, makanan dimasak sejak pagi, lalu baru dimakan siang hari. Ada jenis makanan yang jika dikonsumsi lebih dari 4 jam setelah dimasak bisa menimbulkan bakteri,” jelas Irene.
Dampak Positif Program MBG
Meski dihantui kasus, program MBG tetap berdampak positif di sejumlah daerah. Di Takalar, misalnya, program ini tidak hanya meningkatkan gizi siswa, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal dengan melibatkan UMKM sebagai pemasok bahan dan merekrut relawan dapur.
SPPG Yayasan Sinar Jaya Reski di Takalar menyalurkan 3.247 porsi makanan per hari ke delapan sekolah dengan melibatkan 50 tenaga kerja, termasuk ahli gizi dan relawan. “Semua bahan berasal dari UMKM lokal agar program ini menyehatkan siswa sekaligus memberdayakan usaha kecil,” kata Kepala SPPG, Feby Razak.
Data resmi BGN menyebutkan sudah ada 4.711 kasus keracunan sejak program ini berjalan sembilan bulan. Sementara laporan CISDI bahkan mencatat 5.626 kasus di 17 provinsi.

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.