Tantangan SPPG Palmerah: Edukasi Gizi untuk Siswa yang Tidak Suka Sayur

·

·

Program Makanan Bergizi Gratis di Palmerah, Jakarta Barat

Di tengah kota Jakarta, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palmerah menjalankan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang setiap hari menyediakan ribuan porsi makanan sehat untuk anak-anak sekolah. Menu yang disajikan sangat lengkap dan beragam, namun masih ada tantangan yang terus muncul, yaitu sayur sering tersisa di piring anak-anak.

“Kami selalu bersyukur karena lauk hewani seperti ayam atau lele biasanya habis. Tapi sayur masih sering tersisa. Itu menjadi PR kami dalam edukasi gizi,” ujar Kepala SPPG Palmerah, Saiful Arifin.

Menurut Saiful, pola makan anak-anak cenderung lebih memilih lauk hewani dibanding sayur. Untuk mengatasi hal ini, tim gizi tidak hanya menyiapkan makanan tetapi juga rutin turun ke sekolah untuk memberikan edukasi.

“Setiap bulan kami memberikan edukasi gizi kepada anak-anak. Kami menjelaskan bahwa makan sehat harus lengkap: karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Guru juga kami libatkan untuk mengawasi langsung di sekolah,” jelas Saiful.

Cut Athaya Artawana Tandy, ahli gizi SPPG Palmerah, menambahkan bahwa satu porsi MBG dirancang sesuai standar gizi seimbang. Dalam satu kotak makan terdapat nasi, lauk hewani, lauk nabati, sayur, buah, dan kadang susu.

“Komposisinya sudah ada takaran jelas. Untuk SMA misalnya, nasi 200 gram, lauk hewani dan nabati sesuai gramasi, plus sayur satu centong. Semua itu memenuhi kebutuhan gizi sekali makan,” kata Cut Athaya.

Meski sudah dirancang seimbang, tidak semua menu habis dimakan. Tim gizi selalu mencatat makanan yang tersisa sebagai bahan evaluasi.

“Kami melihat food waste di sekolah. Jika ternyata banyak yang tidak dimakan, khususnya sayur, maka menunya akan kami ganti dengan variasi lain. Misalnya sayur ditumis dengan cara yang lebih disukai anak-anak,” ucap Cut Athaya.

Berdasarkan catatan SPPG Palmerah, tingkat sisa makanan bisa mencapai 5–10 persen, terutama pada menu sayur tertentu. Untuk mengatasi hal itu, tim gizi mencoba menghadirkan variasi sayur yang lebih menarik dan mudah diterima anak-anak.

“Kami kombinasikan dengan menu favorit. Misalnya burger sehat dengan selada dan timun, atau chicken katsu yang tetap ada sayurnya. Jadi anak-anak terbiasa bahwa sayur adalah bagian dari makanan enak,” tambah Cut Athaya.

Saiful berharap, lambat laun, edukasi ini bisa mengubah kebiasaan anak-anak dalam mengonsumsi sayur. “Jika mereka terbiasa sejak sekolah, itu akan terbawa sampai dewasa. Harapannya angka stunting bisa ditekan,” ujarnya.

Setiap hari, dapur SPPG Palmerah mengolah lebih dari delapan karung beras seberat 75 kilogram, puluhan kilogram ayam, ikan, dan daging, serta buah-buahan segar seperti jeruk, pisang, hingga anggur. Semua dikerjakan oleh sekitar 50 pekerja yang mulai bekerja sejak pukul 02.00 dini hari.

Makanan dikirim ke sekolah dalam dua gelombang. Gelombang pertama pukul 06.00–07.30 untuk TK dan SD kelas rendah, sedangkan gelombang kedua pukul 09.00–10.30 untuk SD kelas tinggi hingga SMP.

Meski prosesnya panjang dan melelahkan, bagi Saiful dan tim, hasilnya sepadan. “Ketika lihat anak-anak senang makan bersama teman-temannya, itu jadi kepuasan tersendiri,” kata dia.


Leave a Reply

ASKAI NEWS | Kupon kode diskon: VIP2026 Setiap transaksi di askai.my.id.

Nonton Streaming Anime (Askai Anime) di AINIME.ID

Baca Komik Manga (Askai Manga) di MANGA.AINIME.ID


 

Translate »